menu

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 September 2010

kepediha yang kurasa

di malam itu dimana aku melontarkan canda ku di FB nya...

di hari jumat tanggal 10.09.2010. hari yang amat sangat tak kuduga. pada hari itu tepat jatuh pada hari idul Fitri. di mana semua orang tersenyum dan senang..
aku sendiri malah merasakan sakit yang ku anggap tiada tara.

di hari itu aku menerima SMS dengan kata : aku harus ngomong sesuatu padamu, sudah satu minggu kebelakang aku tak ada rasa cinta padamu : aku tak percaya, dia bisa melupakannya secepat itu, sungguh aku tak kuasa menerimanya, kuanggap ini mimpi. tapi itu kenyataan...

aku tak menyanggka 2 tahun sudah aku jalani cinta ini.. dengan penuh kepercayaan, kesetiaan, dan kesabaran. aku jaga perasaan ini dengan baik dan tak pernah ingkar padanya. tapi dia membalas nya dengan kepedihan..

apa salah ku sehingga aku yang dikorban kan??
apa salah ku??, apa dosaku ??


dia bilang padaku.. hei ingat orang yang kau benci sekarang itu, orang yang pernah berharga dalam hidup mu...
dia bilang .. aku tak mau membohongi dirimu, aku tak mau sakit hatimu..makanya aku jujur padamu
tapi kenyataan berkata lain.

bila kau inginkan kau jauh dari hidupku, aku mohon dengan sangat, tolong bersihkan luka yang ada pada hatiku, jangan sampai ada bekasnya, kalaw kau merasa tak mampu..
maka aku minta, bawalah hati ini.. pisahka lah dari jasad ku ini. karna selama hati itu ada dalam tubuhku, selama itu lah kau menyakitiku.. jangan pernah kau bilang kau pernah berharga dalam hidupku, karna kau yang telah menanam pedih di hati ini dan akan ku rasakan kepedihan ini seumur hidupku...
salah apa aku padamu?
kau selalu menjauhiku...

Senin, 21 Juni 2010

Obat Hati


Malam ini mata tak mau terpejam juga. Keletihan sehari kerja mencari nafkah, tak jua membuat mata menjadi lelah. Bukan,……bukan mata yang menjadi lelah, tapi “HATI”.

Diusia yang seharusnya sudah mapan, diri masih bergulat saja dengan keinginan yang tak berujung tak berpangkal. Segala urusan duniawi seakan mengalahkan keinginan untuk lebih mendekat kepada Yang Maha Suci.

Ibadah sunah sudah semakin jarang dijamah, ibadah fardhu sekedar menggugurkan kewajiban yang di emban. Hidup terasa semakin kosong.

“Ya, Allah tunjukkan aku kembali kejalanMu, jalan yang penuh dengan ketenangan dan kelembutanMu”

“Berdzikir aku, diiringi rinai gerimis menjelang pagi. Kuadukan semua masalah hidup, kepada sang Pemberi Hidup (Ya, Almuhyii), kepada sang Pemberi Kemuliaan (Ya, Al Mu’izzu), kepadaMu yang Maha Pemberi Rezeki (Ya, Ar Razzaaqu)

Dalam sekejap segala kegundahan larung bersama air mata yang terurai. Diatas sajadah ini, di dalam tahajudku, di dalam sujudku,…. kudapatkan kedamaian.

Hambamu yang marasa sederhana, kini merasa kaya akan karuniaMu. Hambamu yang merasa fana, kini merasa berhias mutiara kasihMu. Hambamu yang dhuafa, Kini merasa penuh dengan rahmatMu.

Ketika kulipat sajadah sehabis shalat Shubuh. Semangat untuk berjihad semakin menggebu. Sebuah rahasiaMu telah terkuak di pagi ini